BAB I
tPENDAHULUAN
Latar
belakang
Agam
merupakan system yang mengatur keimanan(kepercayaan) dan peribadatan kepada
Tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan
manusia dan manusia serta lingkunganya. Pada agama yang meyakini adanya
kehidupan setlah kematia Agama juga merupakan pedoman atauu tuntunan hidup
untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, untuk mencapai kehidupan akhirat
yang baik, agama mengarahkan manusia untuk berbuat baik agar bisa menikmati
kehidupan yang baik di kehidupan kedua. Sehingga menuntut manusia untuk hidup
sesuai dengan nilai-nilai agama yang dianutnya.
Maka
dari itu agama memililki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia beragama,
baik dibidang pemerintahan, pertahanan atau kemiliteran, teknologi, ilmu
pengetahuan maupun di bidang ekonomi. Pada setiap agama memiliki ciri
tersendiri di setiap bidangnya baik terhadap metode maupun prinsipnya. Khususnya pada bidang
etika dan ekonomi, agama Kristen protestan telah memiliki ciri dan prinsip
tersendiri dalam bidang ekonomi dan etika, seperti yang telah disimpulkan oleh
seorang tokoh dari protestan sendiri yaitu Max Weber.
Max Weber adalah tokoh kenamaan yang telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi ilmu sosiologi. Nilai sumbnganya terletak pada apa yang ia kerjakanya yaitubagaimana ia meletakkan batu dasar bagi berfikir ilmia untuk memahami realitas sosiologis peradaban manusia. Sebagai seorang ilmuan sosiologi dalam ekonomi politik, ia telah berhasil menulis suatu tesis. Yang amat tekenal tentang apa yang disebutnya “Etikka Protestan” dan hubunganya dengan “semangat kapitalisme”. Sejak ia memperkenalkan tesis tersebut pada tahun 1905, sejumlah sarjana ilmu-ilmu sosial dan agam menghabiskan waktu mereka untuk mempermasalahkan teori itu. Mereka menuduh weber bagi timbulnya pendapat bahwa protetanisme adalah penyebab kapitalisme. Akibatnya, sebagian dari mereka dengan serta-merta mencela Weber.
Max Weber adalah tokoh kenamaan yang telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi ilmu sosiologi. Nilai sumbnganya terletak pada apa yang ia kerjakanya yaitubagaimana ia meletakkan batu dasar bagi berfikir ilmia untuk memahami realitas sosiologis peradaban manusia. Sebagai seorang ilmuan sosiologi dalam ekonomi politik, ia telah berhasil menulis suatu tesis. Yang amat tekenal tentang apa yang disebutnya “Etikka Protestan” dan hubunganya dengan “semangat kapitalisme”. Sejak ia memperkenalkan tesis tersebut pada tahun 1905, sejumlah sarjana ilmu-ilmu sosial dan agam menghabiskan waktu mereka untuk mempermasalahkan teori itu. Mereka menuduh weber bagi timbulnya pendapat bahwa protetanisme adalah penyebab kapitalisme. Akibatnya, sebagian dari mereka dengan serta-merta mencela Weber.
Terlepas
dari segala tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang terhadap Weber, pantaslah
tercatat dalam tesisnya bahwa weber, melalui tesis yang dikemukakanya tersebut
sebenarnya ingin mencoba mengadakan transformasi structural sekaligus lintas
structural antara dua bidang, agama dan ekonomi. Pertanyaan yang coba dicari jawabanya
oleh Weber sebenarnya sederhana dan fundamental. Pertanyaan itu mengenai
kondisi-kondisi psikologi yang telah memungkinkan adanya perkembangan peradaban
kapitalis. Weber berkeinginan keras untuk mempertanyakan atau mungkin lebih
dari itu, mencari hubungan antara penghayatan agama dengan pola-pola perilaku.
Dengan kata lain, melalui tesis-tesis yang di ajukanya, weber ingin lebih jauh
mempersoalkan tentang motivasi dan dorongan –dorongan psikologis dari setiap
perilaku, termasuk ekonomi.
Rumusan masalah
1. bagaiman etika agma itu ?
2. apa itu etika protestan ?
3. bagaimana aksi ekonomi protestan ?
4. bagaimana hubungan etika protestan
dan kapitalisme ?
5. Bagaimana agama sebagai dependet
variable?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Etika Agama
Etika adalah
suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang harus
dilakukan oleh manusia dangan yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju
oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukan jalan untuk melakukan apa
yang harus diperbuat.[1]
Dapat diketahui bahwa etika itu menyelidikisegal perbuatan manusia, kemudian
menetapkan hukum baik atau buruk.
Pokok persoalan etika ialah segala perbuatan yang timbul dari orang-orang yang
melakukan dengan ikhtiar dan sengaja, dan ia mengetahui waktu melakukannya apa
yang ia perbuat. Inilah yang dapat kita beri hokum “baik dan buruk”, demikian
juga segala perbuatan yang timbul tiada dengan kehendak, tetapi dapat
diikhtiarkan penjagaan sewaktu sadar.[2]
Teori etika adalah gambaran yang rasional mengenai hakikat dan dasar perbuatan
dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa
perbuatan dan keputusan tersebut secara moral dieprintahkan dan dilarang. Oleh
karena itu, penelitian etika selalu menempatkan tekanan khusus terhadap
definisi konsep-konsep etika, justifikasi atau penelitian terhadap keputusan
moral, sekaligus membedakan antar perbuatan atau keputusan yang baik dan
buruk..[3]
Tipe-tipe
teori etika :
1. Moralitas Skriptural
Seperti ditunjukan
dalam pernyataan-pernyataan atau quasi-quasi moral Al Qur’an dan Sunnah dengan
ketelitian abstraks dan analisisnya oleh para filosof dan teolog.
2. Teori-teori Teolog
Dengan landasan pokoknya Al Qur’an dan Sunnah dan percaya penuh terhadap kategori-kategori
dan metode-metode keduanya. Penganjurannya adalah Mu’tazilah yang telah
memformulasikan antara system etika islam abad ke 8 dan ke 9, dan Asy’ariyah
yana telah mendirikan system yang kuat, akan tetapi tetap setia terhadap konsep
Al Qur’an tenteng ke Maha Esa-an Tuhan.
3. Teori-teori Filsafat
Terutama
berasal dari karya-karya etika plato dan aristoteles.
4. Teori-teori Religius
Berakar dari
konsepsi Al Qur’an tentang manusia dan kedudukannya di alam semesta.
a. Etika Agama Menurut Asy’ary
Tokoh aliran ini adalah Al Baqillani, Al Baghdadi, Al
Juwayni, dan Al Syahrastani, Al Ghazali, dan Fakhr Al Din Al Razi.
Aliran ini cenderung lebih tunduk terhadap otoritas kitab
suci dari pada kaidah-kaidah rasional . Aliran ini biasanya identik dengan
ortodok.
Aliran ini berpendapat bahwa Tuhan adalah pembuat yang
sebenarnya dari setiap perbuatan dan kejadian di dunia dan karenanya
pekerjaan-pekerjaan yang dilekatkan pada manusia benar-benar bersifat metafora.
Al Asy’ary menyatakan bahwa “perbuatan-perbuatan yang dilekatkan pada manusia
seperti halnya perbuatan-perbuatan itu dilekatkan kepada benda-benda tak
berjiwa, seperti air mengalir, pohon berbuah, batu bergerak, matahari terbit,
dan terbenamnya matahari.[4]
Ajaran mereka menyatakan bahwa perbuatan benar ataupun
salah merupakan ciptaan Tuhan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu,
menurutnya ketentuan baik dan buruk adalah obyek kehendak. Ia juga mengemukakan
bahwa Tuhan dapat menghukum anak-anak tanpa dosa atau tidak menghukumnya dalam
kehidupan ini sesuai dengan kehendakNya. Pernyataan tentang keadilan dan
kebijaksanaan Tuhan, penciptaan dan perolehan serta hakekat baik dan buruk,
kedudukan mereka hampir sama.
Abu Al Hasan Al Asy’ary, pendiri mazhab Asy’ariyah
mengambil posisi yang berlawanan terhadap seluruh pernyataan-pernyataan etika
Mu’tazilah. Mengenai kewajiban, ia menolak bahwa akal menetukan segala hal
sebagai kewajiban secara moral ataupun secara agama. Pengetahuan tentang Tuhan
itu menjadi kewajiban hanya melalui wahyu. Sama halnya dengan balasan atau
ganajaran bagi yang bertaqwa dan hukuman bagi yang berdosa adalah “harus”
melalui wahyu bukan akal.
Aliran ini membagi perbuatan tanggung jawab manusia kedalam :
a. Kewajiban (wajib)
b. Larangan (mahdzur)
c. Anjuran (masnun)
d. Keburukan (makruh)
e. Kebolehan (mubah)
Dengan kewajiban, kita memahami apa yang diperintahkan
Tuhan sebagai suatu keharusan dimana meninggalkannya merupakan dosa. Disisi
lain, dengan larangan kita mengetahui apa yang tidak dipekenankan Tuhan dan
melakukannya akan memperoleh hukuman.
Keburukan adalah perbuatan dimana bagi yang
mengerjakannya mendapat siksa dan yang meninggalkannyatidak akan mendapat hokum.[5]
Dasar-dasar bagi kewajiban semacam itu, apakah dalam
ucapan dan perbuatan adalah perintah dan larangan Tuhan. Tak ada suatu perintah
atau laranganpun melainkan berasal dari Tuhan, maka manusia tetap bertanggung
jawab atas kewajiban apapun.
b. Aliran Mu’tazilah
Tokoh dalam madzhab ini adalah : Abu Al Hudhayl, Bishr
Ibn Al Mu’tamir, Mu’ammar Ibn Abbad, Al Nazzam, Abd Al Jabbar.
Mu’tazilah adalah moralitas pertama dalam islam. Mereka
meletakkan dasar pijakan bagi perkembangan etika selanjutnya khususnya
dilingkungan teologi. Aliran ini setuju bahwa prinsip-prinsip pengetahuan dan
syukur nikmat merupakan kewajiban sebelum datangnya wahyu. Begitu pula
permasalahan tentang benar dan salah harus diketahui melalui akal. Dan
melaksanakan yang benar dan menjauhi yang salah juga merupakan kewajiban.
Datangnya kewajiban agama merupakan anugrah dari Allah yang diberikan kepada
manusia melalui nabi.[6]
Madzhab ini lebih menekankan pada aliran rasionalis.
Mu’tazilah mengklaim bahwa kebaikan dan keburukan merupakan karakteristik
perbuatan yang esensial dapat diketahui secara rasional. Kebaikan dan keburukan
suatu perbuatan dapat diketahui secara bagi orang-orang yang menolak wahyu
ditolak ole tokoh Mu’tazilah dengan alasan bahwa pendapat semacam itu hanyalah
sebagai dalih atau bersilat lidah.[7]
Korelasi antara pengetahuan dan kebenaran menurut adalah
kunci tesis Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah hakikat benar dan salah dapat
ditetapkan secara rasional dan terlepas dari aturan-aturan Tuhan seperti
tertera dalam Al Qur’an. Singkatnya mereka ingin memaparkan bahwa kedua
kategori moral tentang benar dan salah dapat diketahui oleh akal, dan dasar
kebenarannyapun dapat dipahami secara rasional.
B. Etika protestan
Adalah sebuah konsep dan teori dalam teologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah yang
mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya disekitarnya, khususnya nilai agama. Dalam agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan sebelumnya sebelum masuk
ke surga atau ke neraka. Hal tersebut
ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam
pekerjaannya di dunia. Adanya kepercayaan ini membuat penganut agama Protestan
Calvin bekerja keras untuk meraih sukses.
Inilah yang disebut
sebagai Etika Protestan oleh Max Weber dalam bukunya Etika Protestan dan
Semangat Kapitalisme, yakni cara bekerja yang keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan
materialnya. Teori ini merupakan faktor utama munculnya kapitalisme di Eropa. Untuk selanjutnya
Etika Protestan menjadi konsep umum yang bisa berkembang di luar agama
Protestan itu sendiri. Etika protestan menjadi sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih untuk mencapai sukses.
C. Aksi ekonomi dalam etika protestan
Weber mendefinisikan ‘semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung
pengejaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi. Weber menunjukkan bahwa
semangat seperti itu tidak terbatas pada budaya Barat, apabila dipertimbangkan sebagai sikap
individual, tetapi bahwa individu-individu seperti itu tidak dapat dengan
sendirinya membangun sebuah tatanan ekonomi yang baru. Di antara
kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah
keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja
adalah kutuk dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu
melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. Agar suatu
cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciri-ciri khusus
kapitalisme dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu
tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai
suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.
Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran rasional akan
keuntungan ekonomi dan aktivitas duniawi yang telah diberikan arti rohani dan
moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari ide-ide keagamaan, melainkan lebih
merupakan sebuah produk sampingan – logika turunan dari doktrin-doktrin
tersebut dan saran yang didasarkan pada pemikiran mereka yang secara langsung
dan tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan-diri dalam pengejaran
keuntungan ekonomi. Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika Etika Protestan (terutama Calvinis) mempengaruhi
sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan
mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan
untuk investasi. Dalam kata lain, Etika Protestan adalah sebuah kekuatan
belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju
ke pengembangan kapitalisme.
Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan
karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu
berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan
dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia – juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal
ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis.
Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang
tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh
kehidupan dunia – akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses
hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan
“jaminan” masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan
kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi “jaminan” pula bagi individu itu
masuk neraka.
Weber mendefinisikan semangat kapitalisme
sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap
keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia
rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan
daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki
oleh Karl Marx.
D. Etika protestan dan semangat kapitalisme
Weber mengamati bahwa agama Kristen
memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Ia
berpendapat bahwa meskipun orang Kristen memiliki tujuan tertinggi di dunia
lain, namun dunia ini, termasuk aspek-aspek material yang ada padanya dinilai
secara positif sebagai tempat untuk melakukan usaha-usaha yang aktif. Ia
sendiri menemukan sikap terhadap dunia material tersebut teramat kuat di
kalangan orang-orang kristenprotestan.
Menurut Weber, sikap seperti itu
erat hubunganya dengan salah satu konsep yang berkembang di kalangan protestan
yakni konsep beruf, atau mungkin lebih jelas dalam bahasa Inggris sering juga
disebut calling(panggilan). Bagi dia, konsepsi tentang “panggialan” merupakan
konsep agama, yang baru muncul semasa reformasi. Istilah ini tidak ditemukan
sebelumnya dalam lingkungan katolik atau zaman purba, melainkan hanya ditemukan
dilingkungan protestan. Lutherlah yang mengembangkan konsep ini pada decade
pertama dari aktivitasnya sebagai reformator.
Lebih jauh, weber menjelaskan bahwa
arti penting dari konsep panggilan dalam agama protestan adalah untuk membuat
urusan-urusan biasa dari kehidupan
sehari-hari berada dalam pengaruh agama. “panggilan” bagi seseorang adalah
suatu usaha yang dilakukan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibanya terhadap
Tuhan, dengan cara perilaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-harinya.
“panggilan” merupakan suatu cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan,
dengan memenuhi kewajiban yang telah dibebankan kepada dirinya sesuai dengan
kedudukanya di dunia. “panggilan” adalah konsepsi agama tentang suatu tugas
yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu lapangan yang jelas di
mana seseorang harus bekerja.
Namun demikian, bagi weber,
panggilan sebagaimana dipahami oleh Luther masih tradisionalistis. Hal ini
terutama berdasarkan penekananya yang kuat terhadap unsur nasib di mana
seseorang tetap berada pada tempatnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan
Tuhan. Dengan demikian, maka tidak mungkin bagi Luther untuk mengembangkan
hubunganyang fundamental antara aktivitas duniawi dengan prinsip- prinsip
keagamaan. Akan tetapi dengan konsep itu paling tidak Luther tela meletakan
dasar yang kuat bagi pengembangan konsep tersebut selanjutnya.
Ajaran
Luther mengenai panggilan selanjutnya diteruskan oleh Calvin, meski tidak sama
persis. Bagi Calvin dunia ada untuk melayani kemuliaan Tuhan dan hanya ada untuk
tujuan itu semata. Orang-orang Kristen terpilih di dunia dimaksudan untuk
memuliakan Tuhan dengan mematuhi firman-firman-Nya sesuai dengan kemampuan
masing-masing pribadi manusia. Akan tetapi, Tuhan menghendaki adanya pencapaian
sosial dari orang-orang Kristen sebab Tuhan menghendaki bahwa kehidupan sosial
dari orang-orang Kristen semacam itu harus dikelola dengan firman-Nya[[8]].
Aktivitas sosial dari orang-orang Kristen di dunia ini adalah in majorem
gloriam Dei( semua demi kemuliaan Tuhan).
Ciri ini kemudian dilakukan dalam kerja dalam suatu panggilan hidup yang
dapat melayani kehidupan duniawi dari masyarakatnya.
Weber menyatakan bahwa berbeda
dengan orang-orang katolik yang melihat kerja sebagai suatu keharusan demi
kelangsungan hidup, maka Calvinisme khususnya sekte-sekte puritan telah melihat
kerja sebagai panggilan. Kerja tidak sekedar pemenuhan keparluan tetapi sebagai
tugas suci. Penyucian kerja berarti mengingkari sikap hidup keagamaan yan
gmelarikan diri dari dunia[[9]].
Weber mencoba memberikan perhatian
pada salah satu ajaran Calvinis yang memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi
para pengikutnya, yaitu ajaran mengenai predestinasi. Lewat ajaran predestinasi
dikatan bahwa Allah menerima sebagianorang sehingga mereka dapat mengharapkan kehidupan,
dan memberikan hukuman kepada yang lain untuk menjalani kebinasan. Calvin
sendiri berpendapat bahwa hal ini terjadi karena adanya anggapan yang
dimaksudkan sebagai dasar predestinasi adalah Allah tahu segala sesuatu sebelum
waktunya, lita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa segala hal itu sudah sejak
kekal dan smpai kekal bearada di hadapan Allah. Sebelum penciptaan, manusia
sebenarnya sudah ditentukan unutuk diselamatkan atau dihukum. Sejak semula,
demikian Calvin, semua orang tidak diciptakan dalam keadaan yang sama. Oleh
karena itu, kita harus mengatakan bahwa dasar predestinasi bukanlah pada
kejahatan manusia. Artinya, tidak ada satu pun manusia yang mampu mengubah
keadaan tersebut, dan tidak ada yang bisa menolong seseorang yang sudah ditentukan
bahwa ia akan dihkum setelah kematian sebab predestinasi adalah keputusan Allah
yang kekal dalam dirinya sendiri, tidak dapat memperhitungkan sesuatu yang
berada di luar.
Weber berargumentasi bahwa akibat
dari ajaran tentang predestinasi bagi para pemeluk Calvinis adalah adanya suatu
kesepian di hati mereka[[10]].
Artinya mereka harus berhadapan dengan nasibnya sendiri yang telah diputuskan Tuhan
sejak awal penciptaan. Mereka harus berhadapan dengan takdirnya secara pribadi
dan tidak dapat memilih seseorang yang dapat memahami secara bersamaan firman
Tuhan, terkecuali hatinya sendiri, dalam persoalan yang menentukan ini, setiap
orang harus berjalan sendirian saja, tidak seorangpun dapat menolong dirinya,
termasuk kaum agamawan. Tidak pula sakramen bukanalah sarana untuk memperoleh
rahmat, bukan pula gereja, sebab bagaimanapun, keanggotaan gereja abadi menckup
mereka yang terkutuk. Akhirnya, bahkan Allahpun tidak bisa membantu.
Kalau demikian, bagi para pemeluk
Calvinis, usaha untuk mencari identitas dirinya yang pasti masih misteri yang
belum terungkapkan. Sementara itu, ia tetap terikat dengan berbagai aktivitas
penghidupan dunia. Para pemeluk Calvinis sadar bahwa adanya dunia adalah
diciptakan untuk melakukan pemujaan terhadap Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan
sendiri mengajarkan agar kehidupan ini diatur sesuai dengan perintah-Nya.
Aktivitas sosial yang dilakukan semata-semata diperuntukan bagi kemuliaan
Tuhan. Namun demikian, hal yang paling penting dari aktivitas-aktivitas itu
dilakuakan dengan dasar “ kerja dalam panggilan” untuk melayani kehidupan
masyarakat dunia.
Implikasinya
dalah,
1. Setiap orang mempunyai suatu kewajiban untuk menganggap
dirinya sebagai orang terpilih. Ia harus menghilangkan semua sifat
keragu-raguan karena perasaan dosa. Bagi Calvin, adanya rasa kurang percaya
kepada diri sendiri merupakan akibat dari keyakinan yang kurang sepenuhnya.
Adanya sifat keragu-raguan terhadap kepastian pemilihan adalah bukti adanya
keyakinan yang tidak sempurna.
2. Kegiatan duniawi yang sangat intens merupakan saran yang
palin baik dan sesuai untuk mengembangkan dan mempertahankan pemilihan. Weber
berpendapat bahwa karena kecenderunganya tersebut, maka dapatlah dimengerti
mengapa orang-orang Calviinis dalam menghadapi panggilanya di dunia
memperlihatkan sikap hidup yang optimis, positif, dan aktif.[[11]]
E. Agama sebagai dependent variable
Dalam kaitannya
dengan studi agama (Islam) sebagai gejala sosial, pada dasarnya bertumpu pada
konsep sosilogi agama. Awalnya sosiologi agama mempelajari hubungan timbal
balik antara agama dan masyarakat. Belakangan sosiologi agama mempelajari
bagaimana agama mempengaruhi masyarakat dan bisa juga sebaliknya, bagaimana
masyarakat mempengaruhi konsep agama. Dalam kajian sosiologis agama dapat
berposisi independent variable maupun dependent variable. Sebagai dependent
variable berarti agama dipengaruhi faktor unsur lain. Sementara sebagai
independent variable berarti Islam mempengaruhi faktor/unsur lain.Misalnya
contoh dependent variable adalah bagaimana budaya masyarakat Yogyakarta
mempengaruhi resepsi perkawinan Islam (
muslim Yogyakarta). Kemudian Islam sebagai independent variable adalah
bagaimana Islam mempengaruhi tingkah laku muslim Yogyakarta.[12][[13]]
Melalui pendekatan sosiologis, agama akan
dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial, Dalam
Al-qur’an misalanya kita jumpai ayat-ayat yang berkenaan dengan hubungan manusia
dengan manusia lainnya,sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu
bangsa,dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu
jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial
pada saat ajaran agama itu diturunkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Max Weber memandang bahwa untuk
mencapai suatu kesuksesan dan kemakmuran dalam hidup seseorang harus
menggunakan rasionya untuk mencapainya. Sesuai dengan etika protestan bahwa
dalam bekerja seseorang haruslah bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam
melakukanya untuk mencapai hasil yang maksimal dan sesuai dengan apa yang ia
harapkan. Seseorang tidak bisa hanya mengandalkan kepasrahan yang di ajarkan
dalam agama yang menyerahkan semua kepada takdir yang telah ditentukan oleh
Tuhan. Secara rasional apabila kita terus-menerus mengandalkan apa yang telah
ditakdirkan oleh agama yang kemudian hanya berpasrah maka kesuksesan akan sulit
dicapai.
Dengan paham Max Weber yang seperti
ini dapat menimbulkan adanya konsep kapitalisme, yang mana konsep tersebut
mengharuskan manusia untuk bekerja dan berbisnis dengan sekeras-kerasnya dengan
apa yang ia miliki dan memanfaatkan hal-hal disekitarnya dengan seefisien
mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Paham seperti ini
juga dipandang lebih cenderung mementingkan diri sendiri daripada orang lain
demi mengejar kesuksesan yang ia inginkan.
Dengan adanya konsep tersebut
seringkali perekonomia dapat mempengaruhi agama. Hal ini bisa saja terjadi
sesuai dengan konsep sosiologi yang menyatakan bahwa agama juga dapat berupa
sebagai Dependent variable, yaitu yang mendapat pengaruh dari luar baik
oleh pribadi masyarakat dalam bentuk adat kebudayaan maupun dari perekonomian
masyarakat apabila hal tersebut sangat kuat melekat pada diri masyarakat sehingga
sulit terpisahakan antara keduanya.
Daftar pustaka
Nasution,Khoirudin.
2010. Pengantar Studi Islam, Jogjakarta : academia
Sdrajat, ajat 1994. Etika
protestan dan kapitalisme barat, relevansinya dengan Islam Indonesia. Jakarta
: Bumi Aksara
Weber, Max. 2000. Etika protestan dan semangat kapitalisme, Surabaya
: Pustaka Promethea
[1] Etika (Ilmu Akhlak ). Prof. Dr. Ahmad Amin.
hal. 15
[2] Ibid, hal. 17
[3] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 15
[4] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 48
[5] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 51
[6] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 27
[7] Ibid. hal. 52
[8]
Max weber,
Etika protestan dan kapitalisme 2000, hlm 55-56
[9]
Ajat sudrajat, Etika
protestan dan kapitalisme barat, relevansinya dengan Islam Indonesia 1994. Hlm 1
[10]
Ibid., hlm 58
[11]
Ibid., hlm
63-64
[13]
Khoiruddin Nasution, Pengantar
Studi Islam ,hlm 207