Minggu, 09 Juni 2013

Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme



BAB I
tPENDAHULUAN
            Latar belakang
            Agam merupakan system yang mengatur keimanan(kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkunganya. Pada agama yang meyakini adanya kehidupan setlah kematia Agama juga merupakan pedoman atauu tuntunan hidup untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, agama mengarahkan manusia untuk berbuat baik agar bisa menikmati kehidupan yang baik di kehidupan kedua. Sehingga menuntut manusia untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai agama yang dianutnya.
            Maka dari itu agama memililki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia beragama, baik dibidang pemerintahan, pertahanan atau kemiliteran, teknologi, ilmu pengetahuan maupun di bidang ekonomi. Pada setiap agama memiliki ciri tersendiri di setiap bidangnya baik terhadap metode  maupun prinsipnya. Khususnya pada bidang etika dan ekonomi, agama Kristen protestan telah memiliki ciri dan prinsip tersendiri dalam bidang ekonomi dan etika, seperti yang telah disimpulkan oleh seorang tokoh dari protestan sendiri yaitu Max Weber.
            Max Weber adalah tokoh kenamaan yang telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi ilmu sosiologi. Nilai sumbnganya terletak pada apa yang ia kerjakanya yaitubagaimana ia meletakkan batu dasar bagi berfikir ilmia untuk memahami realitas sosiologis peradaban manusia. Sebagai seorang ilmuan sosiologi dalam ekonomi politik, ia telah berhasil menulis suatu tesis. Yang amat tekenal tentang apa yang disebutnya “Etikka Protestan” dan hubunganya dengan “semangat kapitalisme”. Sejak ia memperkenalkan tesis tersebut pada tahun 1905, sejumlah sarjana ilmu-ilmu sosial dan agam menghabiskan waktu mereka untuk mempermasalahkan teori itu. Mereka menuduh weber bagi timbulnya pendapat bahwa protetanisme adalah penyebab kapitalisme. Akibatnya, sebagian dari mereka dengan serta-merta mencela Weber.
            Terlepas dari segala tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang terhadap Weber, pantaslah tercatat dalam tesisnya bahwa weber, melalui tesis yang dikemukakanya tersebut sebenarnya ingin mencoba mengadakan transformasi structural sekaligus lintas structural antara dua bidang, agama dan ekonomi. Pertanyaan yang coba dicari jawabanya oleh Weber sebenarnya sederhana dan fundamental. Pertanyaan itu mengenai kondisi-kondisi psikologi yang telah memungkinkan adanya perkembangan peradaban kapitalis. Weber berkeinginan keras untuk mempertanyakan atau mungkin lebih dari itu, mencari hubungan antara penghayatan agama dengan pola-pola perilaku. Dengan kata lain, melalui tesis-tesis yang di ajukanya, weber ingin lebih jauh mempersoalkan tentang motivasi dan dorongan –dorongan psikologis dari setiap perilaku, termasuk ekonomi.

Rumusan masalah
1.      bagaiman etika agma itu ?
2.      apa itu etika protestan ?
3.      bagaimana aksi ekonomi protestan ?
4.      bagaimana hubungan etika protestan dan kapitalisme ?
5.      Bagaimana agama sebagai dependet variable?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Etika Agama
Etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang harus dilakukan oleh manusia dangan yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.[1]
            Dapat diketahui bahwa etika itu menyelidikisegal perbuatan manusia, kemudian menetapkan hukum baik atau buruk.
            Pokok persoalan etika ialah segala perbuatan yang timbul dari orang-orang yang melakukan dengan ikhtiar dan sengaja, dan ia mengetahui waktu melakukannya apa yang ia perbuat. Inilah yang dapat kita beri hokum “baik dan buruk”, demikian juga segala perbuatan yang timbul tiada dengan kehendak, tetapi dapat diikhtiarkan penjagaan sewaktu sadar.[2]
            Teori etika adalah gambaran yang rasional mengenai hakikat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa perbuatan dan keputusan tersebut secara moral dieprintahkan dan dilarang. Oleh karena itu, penelitian etika selalu menempatkan tekanan khusus terhadap definisi konsep-konsep etika, justifikasi atau penelitian terhadap keputusan moral, sekaligus membedakan antar perbuatan atau keputusan yang baik dan buruk..[3]
           


Tipe-tipe teori etika :
1.             Moralitas Skriptural
Seperti ditunjukan dalam pernyataan-pernyataan atau quasi-quasi moral Al Qur’an dan Sunnah dengan ketelitian abstraks dan analisisnya oleh para filosof dan teolog.
2.        Teori-teori Teolog
      Dengan landasan pokoknya Al Qur’an dan Sunnah dan percaya penuh terhadap kategori-kategori dan metode-metode keduanya. Penganjurannya adalah Mu’tazilah yang telah memformulasikan antara system etika islam abad ke 8 dan ke 9, dan Asy’ariyah yana telah mendirikan system yang kuat, akan tetapi tetap setia terhadap konsep Al Qur’an tenteng ke Maha Esa-an Tuhan.
3.           Teori-teori Filsafat
Terutama berasal dari karya-karya etika plato dan aristoteles.
4.           Teori-teori Religius
Berakar dari konsepsi Al Qur’an tentang manusia dan kedudukannya di alam semesta.

a.         Etika Agama Menurut Asy’ary
Tokoh aliran ini adalah Al Baqillani, Al Baghdadi, Al Juwayni, dan Al Syahrastani, Al Ghazali, dan Fakhr Al Din Al Razi.
Aliran ini cenderung lebih tunduk terhadap otoritas kitab suci dari pada kaidah-kaidah rasional . Aliran ini biasanya identik dengan ortodok.
Aliran ini berpendapat bahwa Tuhan adalah pembuat yang sebenarnya dari setiap perbuatan dan kejadian di dunia dan karenanya pekerjaan-pekerjaan yang dilekatkan pada manusia benar-benar bersifat metafora. Al Asy’ary menyatakan bahwa “perbuatan-perbuatan yang dilekatkan pada manusia seperti halnya perbuatan-perbuatan itu dilekatkan kepada benda-benda tak berjiwa, seperti air mengalir, pohon berbuah, batu bergerak, matahari terbit, dan terbenamnya matahari.[4]
Ajaran mereka menyatakan bahwa perbuatan benar ataupun salah merupakan ciptaan Tuhan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, menurutnya ketentuan baik dan buruk adalah obyek kehendak. Ia juga mengemukakan bahwa Tuhan dapat menghukum anak-anak tanpa dosa atau tidak menghukumnya dalam kehidupan ini sesuai dengan kehendakNya. Pernyataan tentang keadilan dan kebijaksanaan Tuhan, penciptaan dan perolehan serta hakekat baik dan buruk, kedudukan mereka hampir sama.
Abu Al Hasan Al Asy’ary, pendiri mazhab Asy’ariyah mengambil posisi yang berlawanan terhadap seluruh pernyataan-pernyataan etika Mu’tazilah. Mengenai kewajiban, ia menolak bahwa akal menetukan segala hal sebagai kewajiban secara moral ataupun secara agama. Pengetahuan tentang Tuhan itu menjadi kewajiban hanya melalui wahyu. Sama halnya dengan balasan atau ganajaran bagi yang bertaqwa dan hukuman bagi yang berdosa adalah “harus” melalui wahyu bukan akal.
            Aliran ini membagi perbuatan tanggung jawab manusia kedalam :
a.       Kewajiban (wajib)
b.      Larangan (mahdzur)
c.       Anjuran (masnun)
d.      Keburukan (makruh)
e.       Kebolehan (mubah)
Dengan kewajiban, kita memahami apa yang diperintahkan Tuhan sebagai suatu keharusan dimana meninggalkannya merupakan dosa. Disisi lain, dengan larangan kita mengetahui apa yang tidak dipekenankan Tuhan dan melakukannya akan memperoleh hukuman.
Keburukan adalah perbuatan dimana bagi yang mengerjakannya mendapat siksa dan yang meninggalkannyatidak akan mendapat hokum.[5]
Dasar-dasar bagi kewajiban semacam itu, apakah dalam ucapan dan perbuatan adalah perintah dan larangan Tuhan. Tak ada suatu perintah atau laranganpun melainkan berasal dari Tuhan, maka manusia tetap bertanggung jawab atas kewajiban apapun.

b.        Aliran Mu’tazilah
Tokoh dalam madzhab ini adalah : Abu Al Hudhayl, Bishr Ibn Al Mu’tamir, Mu’ammar Ibn Abbad, Al Nazzam, Abd Al Jabbar.
Mu’tazilah adalah moralitas pertama dalam islam. Mereka meletakkan dasar pijakan bagi perkembangan etika selanjutnya khususnya dilingkungan teologi. Aliran ini setuju bahwa prinsip-prinsip pengetahuan dan syukur nikmat merupakan kewajiban sebelum datangnya wahyu. Begitu pula permasalahan tentang benar dan salah harus diketahui melalui akal. Dan melaksanakan yang benar dan menjauhi yang salah juga merupakan kewajiban. Datangnya kewajiban agama merupakan anugrah dari Allah yang diberikan kepada manusia melalui nabi.[6]
Madzhab ini lebih menekankan pada aliran rasionalis. Mu’tazilah mengklaim bahwa kebaikan dan keburukan merupakan karakteristik perbuatan yang esensial dapat diketahui secara rasional. Kebaikan dan keburukan suatu perbuatan dapat diketahui secara bagi orang-orang yang menolak wahyu ditolak ole tokoh Mu’tazilah dengan alasan bahwa pendapat semacam itu hanyalah sebagai dalih atau bersilat lidah.[7]
Korelasi antara pengetahuan dan kebenaran menurut adalah kunci tesis Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah hakikat benar dan salah dapat ditetapkan secara rasional dan terlepas dari aturan-aturan Tuhan seperti tertera dalam Al Qur’an. Singkatnya mereka ingin memaparkan bahwa kedua kategori moral tentang benar dan salah dapat diketahui oleh akal, dan dasar kebenarannyapun dapat dipahami secara rasional.

B.     Etika protestan
Adalah sebuah konsep dan teori dalam teologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah yang mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya disekitarnya, khususnya nilai agama. Dalam agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan sebelumnya sebelum masuk ke surga atau ke neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia. Adanya kepercayaan ini membuat penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses.
Inilah yang disebut sebagai Etika Protestan oleh Max Weber dalam bukunya Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yakni cara bekerja yang keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Teori ini merupakan faktor utama munculnya kapitalisme di Eropa. Untuk selanjutnya Etika Protestan menjadi konsep umum yang bisa berkembang di luar agama Protestan itu sendiri. Etika protestan menjadi sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih untuk mencapai sukses.

C.    Aksi ekonomi dalam etika protestan
Weber mendefinisikan ‘semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengejaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidak terbatas pada budaya Barat, apabila dipertimbangkan sebagai sikap individual, tetapi bahwa individu-individu seperti itu tidak dapat dengan sendirinya membangun sebuah tatanan ekonomi yang baru. Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutuk dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciri-ciri khusus kapitalisme dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.
Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran rasional akan keuntungan ekonomi dan aktivitas duniawi yang telah diberikan arti rohani dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari ide-ide keagamaan, melainkan lebih merupakan sebuah produk sampingan – logika turunan dari doktrin-doktrin tersebut dan saran yang didasarkan pada pemikiran mereka yang secara langsung dan tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan-diri dalam pengejaran keuntungan ekonomi. Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika Etika Protestan (terutama Calvinis) mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain, Etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme.
Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia – juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia – akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan “jaminan” masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi “jaminan” pula bagi individu itu masuk neraka.
Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki oleh Karl Marx.

D.    Etika protestan dan semangat kapitalisme
            Weber mengamati bahwa agama Kristen memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Ia berpendapat bahwa meskipun orang Kristen memiliki tujuan tertinggi di dunia lain, namun dunia ini, termasuk aspek-aspek material yang ada padanya dinilai secara positif sebagai tempat untuk melakukan usaha-usaha yang aktif. Ia sendiri menemukan sikap terhadap dunia material tersebut teramat kuat di kalangan orang-orang kristenprotestan.
            Menurut Weber, sikap seperti itu erat hubunganya dengan salah satu konsep yang berkembang di kalangan protestan yakni konsep beruf, atau mungkin lebih jelas dalam bahasa Inggris sering juga disebut calling(panggilan). Bagi dia, konsepsi tentang “panggialan” merupakan konsep agama, yang baru muncul semasa reformasi. Istilah ini tidak ditemukan sebelumnya dalam lingkungan katolik atau zaman purba, melainkan hanya ditemukan dilingkungan protestan. Lutherlah yang mengembangkan konsep ini pada decade pertama dari aktivitasnya sebagai reformator.
            Lebih jauh, weber menjelaskan bahwa arti penting dari konsep panggilan dalam agama protestan adalah untuk membuat urusan-urusan  biasa dari kehidupan sehari-hari berada dalam pengaruh agama. “panggilan” bagi seseorang adalah suatu usaha yang dilakukan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibanya terhadap Tuhan, dengan cara perilaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-harinya. “panggilan” merupakan suatu cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dengan memenuhi kewajiban yang telah dibebankan kepada dirinya sesuai dengan kedudukanya di dunia. “panggilan” adalah konsepsi agama tentang suatu tugas yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu lapangan yang jelas di mana seseorang harus bekerja.
            Namun demikian, bagi weber, panggilan sebagaimana dipahami oleh Luther masih tradisionalistis. Hal ini terutama berdasarkan penekananya yang kuat terhadap unsur nasib di mana seseorang tetap berada pada tempatnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan. Dengan demikian, maka tidak mungkin bagi Luther untuk mengembangkan hubunganyang fundamental antara aktivitas duniawi dengan prinsip- prinsip keagamaan. Akan tetapi dengan konsep itu paling tidak Luther tela meletakan dasar yang kuat bagi pengembangan konsep tersebut selanjutnya.
                    Ajaran Luther mengenai panggilan selanjutnya diteruskan oleh Calvin, meski tidak sama persis. Bagi Calvin dunia ada untuk melayani kemuliaan Tuhan dan hanya ada untuk tujuan itu semata. Orang-orang Kristen terpilih di dunia dimaksudan untuk memuliakan Tuhan dengan mematuhi firman-firman-Nya sesuai dengan kemampuan masing-masing pribadi manusia. Akan tetapi, Tuhan menghendaki adanya pencapaian sosial dari orang-orang Kristen sebab Tuhan menghendaki bahwa kehidupan sosial dari orang-orang Kristen semacam itu harus dikelola dengan firman-Nya[[8]]. Aktivitas sosial dari orang-orang Kristen di dunia ini adalah in majorem gloriam Dei( semua demi kemuliaan Tuhan).  Ciri ini kemudian dilakukan dalam kerja dalam suatu panggilan hidup yang dapat melayani kehidupan duniawi dari masyarakatnya.
            Weber menyatakan bahwa berbeda dengan orang-orang katolik yang melihat kerja sebagai suatu keharusan demi kelangsungan hidup, maka Calvinisme khususnya sekte-sekte puritan telah melihat kerja sebagai panggilan. Kerja tidak sekedar pemenuhan keparluan tetapi sebagai tugas suci. Penyucian kerja berarti mengingkari sikap hidup keagamaan yan gmelarikan diri dari dunia[[9]].
            Weber mencoba memberikan perhatian pada salah satu ajaran Calvinis yang memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi para pengikutnya, yaitu ajaran mengenai predestinasi. Lewat ajaran predestinasi dikatan bahwa Allah menerima sebagianorang sehingga mereka dapat mengharapkan kehidupan, dan memberikan hukuman kepada yang lain untuk menjalani kebinasan. Calvin sendiri berpendapat bahwa hal ini terjadi karena adanya anggapan yang dimaksudkan sebagai dasar predestinasi adalah Allah tahu segala sesuatu sebelum waktunya, lita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa segala hal itu sudah sejak kekal dan smpai kekal bearada di hadapan Allah. Sebelum penciptaan, manusia sebenarnya sudah ditentukan unutuk diselamatkan atau dihukum. Sejak semula, demikian Calvin, semua orang tidak diciptakan dalam keadaan yang sama. Oleh karena itu, kita harus mengatakan bahwa dasar predestinasi bukanlah pada kejahatan manusia. Artinya, tidak ada satu pun manusia yang mampu mengubah keadaan tersebut, dan tidak ada yang bisa menolong seseorang yang sudah ditentukan bahwa ia akan dihkum setelah kematian sebab predestinasi adalah keputusan Allah yang kekal dalam dirinya sendiri, tidak dapat memperhitungkan sesuatu yang berada di luar.
            Weber berargumentasi bahwa akibat dari ajaran tentang predestinasi bagi para pemeluk Calvinis adalah adanya suatu kesepian di hati mereka[[10]]. Artinya mereka harus berhadapan dengan nasibnya sendiri yang telah diputuskan Tuhan sejak awal penciptaan. Mereka harus berhadapan dengan takdirnya secara pribadi dan tidak dapat memilih seseorang yang dapat memahami secara bersamaan firman Tuhan, terkecuali hatinya sendiri, dalam persoalan yang menentukan ini, setiap orang harus berjalan sendirian saja, tidak seorangpun dapat menolong dirinya, termasuk kaum agamawan. Tidak pula sakramen bukanalah sarana untuk memperoleh rahmat, bukan pula gereja, sebab bagaimanapun, keanggotaan gereja abadi menckup mereka yang terkutuk. Akhirnya, bahkan Allahpun tidak bisa membantu.
            Kalau demikian, bagi para pemeluk Calvinis, usaha untuk mencari identitas dirinya yang pasti masih misteri yang belum terungkapkan. Sementara itu, ia tetap terikat dengan berbagai aktivitas penghidupan dunia. Para pemeluk Calvinis sadar bahwa adanya dunia adalah diciptakan untuk melakukan pemujaan terhadap Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan sendiri mengajarkan agar kehidupan ini diatur sesuai dengan perintah-Nya. Aktivitas sosial yang dilakukan semata-semata diperuntukan bagi kemuliaan Tuhan. Namun demikian, hal yang paling penting dari aktivitas-aktivitas itu dilakuakan dengan dasar “ kerja dalam panggilan” untuk melayani kehidupan masyarakat dunia.
        Implikasinya dalah,
1.      Setiap orang mempunyai suatu kewajiban untuk menganggap dirinya sebagai orang terpilih. Ia harus menghilangkan semua sifat keragu-raguan karena perasaan dosa. Bagi Calvin, adanya rasa kurang percaya kepada diri sendiri merupakan akibat dari keyakinan yang kurang sepenuhnya. Adanya sifat keragu-raguan terhadap kepastian pemilihan adalah bukti adanya keyakinan yang tidak sempurna.
2.      Kegiatan duniawi yang sangat intens merupakan saran yang palin baik dan sesuai untuk mengembangkan dan mempertahankan pemilihan. Weber berpendapat bahwa karena kecenderunganya tersebut, maka dapatlah dimengerti mengapa orang-orang Calviinis dalam menghadapi panggilanya di dunia memperlihatkan sikap hidup yang optimis, positif, dan aktif.[[11]]



E.     Agama sebagai dependent variable
Dalam kaitannya dengan studi agama (Islam) sebagai gejala sosial, pada dasarnya bertumpu pada konsep sosilogi agama. Awalnya sosiologi agama mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat. Belakangan sosiologi agama mempelajari bagaimana agama mempengaruhi masyarakat dan bisa juga sebaliknya, bagaimana masyarakat mempengaruhi konsep agama. Dalam kajian sosiologis agama dapat berposisi independent variable maupun dependent variable. Sebagai dependent variable berarti agama dipengaruhi faktor unsur lain. Sementara sebagai independent variable berarti Islam mempengaruhi faktor/unsur lain.Misalnya contoh dependent variable adalah bagaimana budaya masyarakat Yogyakarta mempengaruhi resepsi perkawinan Islam  ( muslim Yogyakarta). Kemudian Islam sebagai independent variable adalah bagaimana Islam mempengaruhi tingkah laku muslim Yogyakarta.[12][[13]]
Melalui pendekatan sosiologis, agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri  diturunkan untuk kepentingan sosial, Dalam Al-qur’an misalanya kita jumpai ayat-ayat yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya,sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa,dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Max Weber memandang bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan dan kemakmuran dalam hidup seseorang harus menggunakan rasionya untuk mencapainya. Sesuai dengan etika protestan bahwa dalam bekerja seseorang haruslah bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam melakukanya untuk mencapai hasil yang maksimal dan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Seseorang tidak bisa hanya mengandalkan kepasrahan yang di ajarkan dalam agama yang menyerahkan semua kepada takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan. Secara rasional apabila kita terus-menerus mengandalkan apa yang telah ditakdirkan oleh agama yang kemudian hanya berpasrah maka kesuksesan akan sulit dicapai.
            Dengan paham Max Weber yang seperti ini dapat menimbulkan adanya konsep kapitalisme, yang mana konsep tersebut mengharuskan manusia untuk bekerja dan berbisnis dengan sekeras-kerasnya dengan apa yang ia miliki dan memanfaatkan hal-hal disekitarnya dengan seefisien mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Paham seperti ini juga dipandang lebih cenderung mementingkan diri sendiri daripada orang lain demi mengejar kesuksesan yang ia inginkan.
            Dengan adanya konsep tersebut seringkali perekonomia dapat mempengaruhi agama. Hal ini bisa saja terjadi sesuai dengan konsep sosiologi yang menyatakan bahwa agama juga dapat berupa sebagai Dependent variable, yaitu yang mendapat pengaruh dari luar baik oleh pribadi masyarakat dalam bentuk adat kebudayaan maupun dari perekonomian masyarakat apabila hal tersebut sangat kuat melekat pada diri masyarakat sehingga sulit terpisahakan antara keduanya.



Daftar pustaka


Nasution,Khoirudin. 2010. Pengantar Studi Islam, Jogjakarta : academia
Sdrajat, ajat 1994.  Etika protestan dan kapitalisme barat, relevansinya dengan Islam Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara
Weber, Max. 2000. Etika protestan dan semangat kapitalisme, Surabaya : Pustaka Promethea



           


[1] Etika (Ilmu Akhlak ). Prof. Dr. Ahmad Amin. hal. 15
[2] Ibid, hal. 17
[3] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 15
[4] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 48
[5] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 51
[6] Etika dalam Islam,. Majid Fakhry. hal. 27
[7] Ibid. hal. 52
[8] Max weber, Etika protestan dan kapitalisme 2000, hlm 55-56
[9] Ajat sudrajat, Etika protestan dan kapitalisme barat, relevansinya dengan Islam Indonesia 1994.      Hlm 1
[10] Ibid., hlm 58
[11] Ibid., hlm 63-64

[13] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam ,hlm 207